Label

Jumat, 23 Januari 2015

Kumohon, Jangan Simpangkan Hatiku Lagi!



Aku telah lihat ENGKAU kini, tak salah lagi
Ku telah tahu arahku menuju
Ku taat tanpa syarat pada kehendak MU
Ku kini hanya ingin selalu dekat dengan MU
Tak ingin mencapai apa-apa yang dulu
ENGKAU pula yang sirnakan nafsu-nafsu dan belenggu
Hingga untuk kemerdekaan jiwa yang KAU anugerahkan padaku
Aku ingin menghambakan segala yang KAU pinjamkan bagi kemashlahatan
Bagi siapa pun insan dan kehidupan
Kuingin siapa saja melihat yang kulihat
Merasa yang kurasa
Mendamba yang kudamba
Sebab aku tlah tahu jalan pulang
Tak ingin menyesatkan diri lagi
Sembunyi dari tatap mata NYA yang menghujam ke jantung jiwa
segala langkahku kini hanya bagi NYA
Permata hatiku hanyalah damba cinta NYA
Aku tak ingin bergeser dari ini
Sebab sia-sia segala tanpa cinta NYA
Kering layu hampa

Aku kini hidup nyala bangun dan merdeka
Aku ingin berjalan ke penjuru dunia
Mengajak siapa saja untuk bertuhan kepada NYA
Hanya IA, hanya bagi NYA, karena IA dan untuk IA semata
Namun aku tak akan berjalan, tak akan pernah
Tanpa IA memberi tanda
Ataukah aku akan lancung dan merasa lebih dan sudah
Maka jika ya, lebih baik diam ku di sini menadah tangan berdoa
Tahankan langkahku dari sia-sia dalam pandangan NYA

Aku telah lihat ENGKAU sekarang
Cemerlang hati jiwa dan raga
Menatap masa depan pasti
Di seberang bersama-sama semua yang dicinta



)*Neno Warisman "Ijinkan Aku Bertutur"

Sabtu, 20 Desember 2014

Kepada Semua Perempuan yang Membawa Luka Hati





Sahabat-sahabat sesama perempuan….

Penting sekali untuk mencari pertolongan bagi kondisi ruhiyah, dalam situasi hati yang diuji.
Saat berbagai masalah menghampiri, perbanyak shalat malam, puasa Senin Kamis, juga ibadah-ibadah lain seperti membaca Al-Qur’an dan doa-doa.

Banyak berdialog dan curhat dengan NYA. Allah Maha Mengerti segala doa.

Ketika mendapatkan ujian Allah, hal yang tidak dimengerti, maka berbicaralah dengan NYA. Benar-benar curhat. Adukan semuanya, mohonkan kekuatan pada DIA Yang Maha Kuat. Menangislah, tumpahkan keluh kesah. Pindahkan beban permasalahan yang ada di pundak kepada NYA.
Mudah-mudahan dengan demikian energi yang selama ini terkuras akibat masalah-masalah yang dihadapi bisa kembali kita genggam. Semoga doa-doa yang dipanjatkan dalam dialog hening dengan NYA mampu memberi pasokan kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi ujian Allah.

Kasihani diri, juga anak-anak.

Ah…anak-anak selalu menjadi korban dari ketidakdewasaan orang tua. Kalau mereka kehilangan sosok ayah, maka mudah-mudahan kasih sayang bunda bisa melengkapi porsi sayang yang kurang tadi. Curahkan perhatian dan cinta pada mereka. Anak-anak adalah media kita mencari surga Allah, lewat bakti dan pengabdian sebagai ibu untuk mereka.

Dalam kondisi biasa, ini memang ujian yang tidak ringan. Bahkan menjadi ibu yang baik, yang penyabar, penuh kasih, yang tidak menyakiti anak-anak secara fisik, sekalipun hanya cubitan atau jeweran telinga, tidaklan mudah. Apalagi jika berbagai persoalan hidup menghampiri. Dan disaat kondisi rumah tangga ditempa badai, disinilah kekuatan seorang perempuan diuji. Sanggupkah dia, dalam kecewa, dalam kemarahan, dalam kesedihan, tetap memainkan peran sebaik mungkin sebagai seorang ibu? Tetap bermain, tetap berjuang agar batin anak-anak sehat, agar mereka tumbuh dalam atmosfer yang utuh, sekalipun rumah tangga compang-camping? Dan bukan sebaliknya menjadikan anak-anak sebagai media pelampiasan kekesalan terhadap pasangan.

Mari menyatukan tangan, sama-sama berdoa untuk sesama istri yang saat ini tengah berjuang menyelesaikan masalah. Semoga Allah menguatkan kesabaran, semoga Allah alirkan kasih sayang dari jari-jemari para ibu yang ditempa ujian, untuk melimpahi anak-anak dengan kasih yang lebih lagi. Kecil atau besar, anak-anak selalu membutuhkan ibunya untuk memberi matahari ketika langit gelap dan memberikan kehangatan saat udara di sekitar terasa begitu dingin.

Kebahagiaan mereka di tangan kita, para bunda……

Semoga Allah kucurkan kasih sayang seluas samudra untuk disampaikan kepada ananda tercinta.

Ya Allah Yang Maha Kasih dan tidak pernah pilih kasih…
Bantu kami, hingga mampu mengasihi anak-anak sebagaimana Engkau mengasihi kami….
Meski banyak lalai kami, meski tidak terhitung dosa kami, meski menggunung kesalahan-kesalahan kami…..


Amiiin….



Kutipan:  Asma Nadia, New Catatan Hati Seorang Istri

Jumat, 19 September 2014

Jangan Terburu-buru Dalam Meraih Popularitas


"Kuburlah wujudmu dalam tanah untuk sekian waktu, sebab apa yang tumbuh dari sesuatu yang tidak terkubur buahnya tidak sempurna"

Kata-kata ini merupakan pengarahan yang sangat baik bagi mereka yang mendambakan kemasyhuran dengan terburu-buru, dan bagi orang-orang yang mengira bahwa sedikit pengetahuan dan pengalaman cukup menjadi bekal untuk memimpin masyarakat, untuk bisa tampil ke muka di tengah-tengah manusia. 

Untuk meraih kepemimpinan, baik kepemimpinan dunia maupun agama, menuntuk kesabaran bertahun-tahun dan perjuangan yang tidak sebentar. Untuk itu, seseorang terlebih dahulu harus membentuk dirinya dalam kesunyian, kebisuan dan ketenangan (read:belajar). Ibarat sebuah pohon yang cikal bakalnya terkubur dalam kegelapan tanah beberapa waktu untuk membentuk perumbuhannya yang sehat dan kuat, setelah itu baru membelah tanah untuk menghirup udara dan cahaya. Apa salahnya jika seseorang menarik diri barang sebentar atau lama dan tidak memunculkan diri di tengah-tengah manusia sebelum bakat dan kemampuannya matang???

Dewasa ini, sering kali kita saksikan orang yang menulis sejumlah makalah, lalu mengaku diri sebagai pelopor pemikiran. Atau sedikit ahli dalam bidang tertentu, lalu mengkalim diri sebagai sorang pakar. Kalau saja ia memilih untuk "mengubur diri" (read:belajar dan memperdalam ilmu) barang sebentar untuk mematangkan diri, tentu akan lebih baik.

Selanjutnya, ketika kita sudah matang dan mempunyai kualifikasi yang memadi untuk melakukan suatu karya, niatkan segala sesuatunya karena Allah semata, bukan untuk pamer. Sebab orang yang mencari perhatian manusia akan lepas dari perhatian Allah. 

Hindarkan diri dari dua hal, yaitu: Pertama, memaksakan diri untuk tampil ke muka sebelum terpenuhinya kualifikasi-kualifikasi yang seharusnya. Kedua, tampil ke muka setelah terpenuhinya kualifikasi-kualifikasi yang seharusnya untuk menarik perhatian manusia. 


)*Dikutip dari "Selalu Melibatkan Allah: Membangun Kesalehan Paripurna Orang Beriman"
Karya: Muhammad al-Ghazali

Rabu, 20 Agustus 2014

Obat Rakus Dunia




Jika kita ingin menjadi orang yang tidak rakus terhadap dunia, wajib bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat qona’ah. Tips agar seseorang menjadi qona’ah, yaitu: sabar dalam kefakiran, mengilmui tentang keutamaan qona’ah, serta berbuat untuk menjadi orang yang mulia dan tidak meminta-minta. 

Ketiganya terincikan dengan beberapa langkah, diantaranya:

Pertama: Hidup hemat dan sederhana serta tidak lupa berinfaq. Barang siapa yang ingin hatinya kaya dan memiliki kemuliaan jiwa, ia harus qona’ah dan berhemat dalam menggunakan harta. Janganlah kita belanjakan harta kecuali untuk hal-hal yang bermanfaat. Jangan kita belanjakan harta untuk membeli perabot-perabot yang mahal dan kurang bermanfaat. Bedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kadang banyak keinginan kita yang sebenarkan kurang bermanfaat, sehingga banyak diantara kita yang mengejar keinginan-keinginan tersebut. Ingatlah bahwa keinginan seseorang jika dituruti tidak akan pernah selesai sehingga ajal datang menjemput.

Kedua: Jika kita mendapat kemudahan dalam mencari rizki, maka jangan mengerahkan seluruh tenaga untuk mendapatkan kekayaan yang lebih banyak hingga terlupakan ibadah kita. Hal inilah yang akan menjadikan diri kita pendek angan-angan. Kita harus yakin bahwa rizki yang Allah takdirkan pada kita pasti tidak akan jatuh ke tangan orang lain walaupun kita juga harus mengusahakannya. Kerakusan seseorang terhadap harta tidak akan menambah kecuali apa yang telah Allah tetapkan kepada orang tersebut. Setan memang senantiasa menakut-nakuti anak adam dengan kefakiran sehingga manusia berbuat dosa.

Ketiga: hendaklah kita memahami bahwa dalam qona’ah ada kemuliaan, dan dalam ketamakan serta kerakusan terdapat kehinaan. Jika kita telah paham dengan hal tersebut, hati kita akan disinari dengan sifat qona’ah. Kerakusan hanya akan melelahkan dan menghinakan seseorang, sedangkan sifat qona’ah akan melahirkan kesabaran dalam menggapai syahwat-syahwat dunia.

Keempat: Hendaknya seseorang memahami bahwa mengumpulkan harta akan melahirkan sifat takut. Takut jika hartanya dicuri, takut jika hartanya terbakar atau mungkin lepasnya harta tersebut dari tangannya. Ketahuilah bahwa orang kaya akan masuk jannah lebih akhir dari pada orang miskin lima ratus tahun, yang demikian itu karena orang kaya lebih banyak harta yang dihisab dibandingkan orang miskin.


Kelima: Berdo’a pada Allah Ta’ala. Disamping berusaha, tidak lupa kita juga harus berdo’a. Do’a adalah senjata orang mukmin dalam melawan setan. Oleh karena itu, banyaklah berdo’a pada Allah agar selalu diberi kecukupan.


)*Disadur dari Majalah BaitulMal edisi Agustus 2014 

Rabu, 21 Mei 2014

Belajar Berkomunikasi


Kita telah mempelajari betapa pentingnya komunikasi bagi manuusia. Kita juga telah belajar bahwa ada 3 hal yang menghalangi kita untuk memiliki komunikasi yang berkualitas, yaitu rasa takut, rasa malu, dan rasa bersalah. Ketiga hal tersebut menyumbangkan kebiasaan buruk yang sering kita lakukan dalam berhubungan dan berkomunikasi. Diantara kesalahan yang sering kita lakukan adalah:
  1. Cenderung lari, bersembunyi, atau menolak untuk berkomunikasi dengan benar
  2. Cenderung menutup diri lewat pola-pola perlindungan yang biasa kita bangun
  3. Cenderung menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan pola komunikasi kita.
Keharmonisan sebuah keluarga sangat didukung oleh komunikasi yang baik dari suami istri. Tidak heran bahwa riset dan statistik memperlihatkan bahwa penyebab utama perceraian, atau pun kegagalan sebuah rumah tangga, dikarenakan kegagalan suami istri dalam berkomunikasi dengan baik. Untuk itu kita perlu belajar tips komunikasi yang baik antara suami dan istri.

Kamis, 27 Maret 2014

Nrimo Ing Pandum...



Nrimo ing pandum kurang lebih berarti menerima apa yang diberikan dengan rasa ikhlas dan syukur. Bagi masyarakat Jawa, nasehat ini merupakan himbauan agar dalam setiap langkah kehidupan senantiasa bersikap ikhlas dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah."

Sebagian orang memandang sinis konsep ini. Mereka menganggap orang yang melaksanakan konsep ini adalah golongan fatalis, yaitu orang yang pasrah begitu saja terhadap nasib/takdir. Tak mau berusaha lebih keras, lebih memilih bersantai, tidak ada usaha untuk maju.

Bisa jadi, anggapan tersebut ada benarnya, mengingat semua falsafah, slogan dan visi pada dasarnya bisa diperdebatkan. Tetapi disini falsafah "nrimo ing pandum" ini kita garisbawahi sebagai bentuk tawakal atas usaha yang dilakukan. Setelah mengambil sebab-sebab keberhasilan, setelah menemp0uh sebaik-baik cara menuju kesuksesan, setelah mengiringi setiap langkah yang diambil dengan doa panjang terpanjatkan, baru kemudian bertawakal.

Tawakal sendiri menandakan fase keikhlasan untuk dinilai atas hasil kerja dan doa yang telah dilakukan. Jadi disini falsafah ini hanya berlaku untuk mereka yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Apa pun hasilnya itulah yang akan mereka terima dengan tangan terbuka.

Rabu, 26 Maret 2014

Candle in the wind....



"Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut. Takut kepada Allah, ridha dengan kekuasaan Nya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti"
(Imam Ahmad bin Hambal)

Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah. Hanya taqwa kepada Nya lah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari azab Nya di dunia maupun di akhirat nanti.  Karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi surga Allah Subhannahu wa Ta'ala.

Pengertian taqwa mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari azab Nya. Hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi apa yang dilarang Nya. Bila kata taqwa disandarkan kepada Allah maka artinya takutlah kepada kemurkaan Nya, dan ini merupakan perkara yang besar yang mesti ditakuti oleh setiap hamba.

Pernah suatu ketika Rasullullah Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, "Ya Rasullullah, sepertinya ini nasihat terakhir oleh karena itu nasihatilah kami". Lalu Nabi bersabda:

"Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa diantara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurraasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini erat-erat). Dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid'ah) karena setiap bid'ah itu sesat" (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Tentang sabda Rasulullah SAW di atas, Ibnu Rajab berkata bahwa kata "mendengar" dan "mentaati" mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.