Nrimo ing pandum kurang lebih berarti menerima apa yang diberikan dengan rasa ikhlas dan syukur. Bagi masyarakat Jawa, nasehat ini merupakan himbauan agar dalam setiap langkah kehidupan senantiasa bersikap ikhlas dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah."
Sebagian orang memandang sinis konsep ini. Mereka menganggap orang yang melaksanakan konsep ini adalah golongan fatalis, yaitu orang yang pasrah begitu saja terhadap nasib/takdir. Tak mau berusaha lebih keras, lebih memilih bersantai, tidak ada usaha untuk maju.
Bisa jadi, anggapan tersebut ada benarnya, mengingat semua falsafah, slogan dan visi pada dasarnya bisa diperdebatkan. Tetapi disini falsafah "nrimo ing pandum" ini kita garisbawahi sebagai bentuk tawakal atas usaha yang dilakukan. Setelah mengambil sebab-sebab keberhasilan, setelah menemp0uh sebaik-baik cara menuju kesuksesan, setelah mengiringi setiap langkah yang diambil dengan doa panjang terpanjatkan, baru kemudian bertawakal.
Tawakal sendiri menandakan fase keikhlasan untuk dinilai atas hasil kerja dan doa yang telah dilakukan. Jadi disini falsafah ini hanya berlaku untuk mereka yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Apa pun hasilnya itulah yang akan mereka terima dengan tangan terbuka.
Bisa jadi, anggapan tersebut ada benarnya, mengingat semua falsafah, slogan dan visi pada dasarnya bisa diperdebatkan. Tetapi disini falsafah "nrimo ing pandum" ini kita garisbawahi sebagai bentuk tawakal atas usaha yang dilakukan. Setelah mengambil sebab-sebab keberhasilan, setelah menemp0uh sebaik-baik cara menuju kesuksesan, setelah mengiringi setiap langkah yang diambil dengan doa panjang terpanjatkan, baru kemudian bertawakal.
Tawakal sendiri menandakan fase keikhlasan untuk dinilai atas hasil kerja dan doa yang telah dilakukan. Jadi disini falsafah ini hanya berlaku untuk mereka yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Apa pun hasilnya itulah yang akan mereka terima dengan tangan terbuka.

