Label

Kamis, 27 Maret 2014

Nrimo Ing Pandum...



Nrimo ing pandum kurang lebih berarti menerima apa yang diberikan dengan rasa ikhlas dan syukur. Bagi masyarakat Jawa, nasehat ini merupakan himbauan agar dalam setiap langkah kehidupan senantiasa bersikap ikhlas dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah."

Sebagian orang memandang sinis konsep ini. Mereka menganggap orang yang melaksanakan konsep ini adalah golongan fatalis, yaitu orang yang pasrah begitu saja terhadap nasib/takdir. Tak mau berusaha lebih keras, lebih memilih bersantai, tidak ada usaha untuk maju.

Bisa jadi, anggapan tersebut ada benarnya, mengingat semua falsafah, slogan dan visi pada dasarnya bisa diperdebatkan. Tetapi disini falsafah "nrimo ing pandum" ini kita garisbawahi sebagai bentuk tawakal atas usaha yang dilakukan. Setelah mengambil sebab-sebab keberhasilan, setelah menemp0uh sebaik-baik cara menuju kesuksesan, setelah mengiringi setiap langkah yang diambil dengan doa panjang terpanjatkan, baru kemudian bertawakal.

Tawakal sendiri menandakan fase keikhlasan untuk dinilai atas hasil kerja dan doa yang telah dilakukan. Jadi disini falsafah ini hanya berlaku untuk mereka yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Apa pun hasilnya itulah yang akan mereka terima dengan tangan terbuka.

Rabu, 26 Maret 2014

Candle in the wind....



"Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut. Takut kepada Allah, ridha dengan kekuasaan Nya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti"
(Imam Ahmad bin Hambal)

Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah. Hanya taqwa kepada Nya lah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari azab Nya di dunia maupun di akhirat nanti.  Karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi surga Allah Subhannahu wa Ta'ala.

Pengertian taqwa mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari azab Nya. Hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi apa yang dilarang Nya. Bila kata taqwa disandarkan kepada Allah maka artinya takutlah kepada kemurkaan Nya, dan ini merupakan perkara yang besar yang mesti ditakuti oleh setiap hamba.

Pernah suatu ketika Rasullullah Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, "Ya Rasullullah, sepertinya ini nasihat terakhir oleh karena itu nasihatilah kami". Lalu Nabi bersabda:

"Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa diantara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurraasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini erat-erat). Dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid'ah) karena setiap bid'ah itu sesat" (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Tentang sabda Rasulullah SAW di atas, Ibnu Rajab berkata bahwa kata "mendengar" dan "mentaati" mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.