Kita telah mempelajari betapa pentingnya komunikasi bagi manuusia. Kita juga telah belajar bahwa ada 3 hal yang menghalangi kita untuk memiliki komunikasi yang berkualitas, yaitu rasa takut, rasa malu, dan rasa bersalah. Ketiga hal tersebut menyumbangkan kebiasaan buruk yang sering kita lakukan dalam berhubungan dan berkomunikasi. Diantara kesalahan yang sering kita lakukan adalah:
- Cenderung lari, bersembunyi, atau menolak untuk berkomunikasi dengan benar
- Cenderung menutup diri lewat pola-pola perlindungan yang biasa kita bangun
- Cenderung menjadi agresif dan menyerang orang lain dengan pola komunikasi kita.
Keharmonisan sebuah keluarga sangat didukung oleh komunikasi yang baik dari suami istri. Tidak heran bahwa riset dan statistik memperlihatkan bahwa penyebab utama perceraian, atau pun kegagalan sebuah rumah tangga, dikarenakan kegagalan suami istri dalam berkomunikasi dengan baik. Untuk itu kita perlu belajar tips komunikasi yang baik antara suami dan istri.
Beberapa prinsip dasar dalam komunikasi suami istri
Komunikasi adalah kebutuhan, dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya. Manusia adalah makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial. Baik sebagai pribadi mau pun sebagai makhluk sosial, ada kebutuhan mendasar yang perlu diisi lewat komunikasi.Kebutuhan itu diantaranya adalah: rasa aman lahir batin, saling menghargai, saling berbagi, kebutuhan kenyamanan fisik, dan kebutuhan seksual.
Komunikasi suami istri adalah sebuah proses menuju keintiman. Ketika sudahg menikah, mau tidak mau, tepat atau tidak tepat, kita akan berkomunikasi. Ketika bersatu sebagai suami istri, sebenarnya kita sedang berproses untuk dapat memahami satu sama lain, berproses menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, serta berproses untuk dapat menyelesaikan masalah.
Komunikasi suami istri adalah suatu bentuk kasih. Tentu saja ini bukan hanya bersifat kata-kata semata, tetapi lebih dari itu. Kehadiran pasangan, dan kemauan untuk mendengar. Mendengar yang baik bukan sekedar mendengar dengan telinga dan mata yang menatap saja, apalagi mendengar dengan acuh tak acuh, tetapi mendengar dengan hati bahkan dengan berempati. Respon dari mendengar ini juga dapat diwujudkan melalui pemberian dukungan yang positif, bisa lewat kata-kata yang memberi semangat, bisa juga lewat komunikasi non verbal misalnya: memeluk, menepuk pundak, dll.
Komunikasi suami isti adalah alat mencapai tujuan dan menyelesaikan masalah. Suami istri perlu memiliki tujuan bersama yang jelas. Untuk itu perlu ada waktu untuk berbagi aspirasi dan perasaan, sehingga tujuan bersama itu dapat didiskusikan.
Beberapa kesalahan yang sering terjadi dalam komunikasi suami istri
- Tidak terbuka, suami istri perlu terbuka satu sama lain.
- Berasumsi, kita seringkali merasa tahu apa yang ada dalam benak pasangan kita, kemudian mengambil kesimpulan sendiri berdasarkan perasaan/asumsi tersebut. Dalam beberapa kasus, kita juga bukan sekedar berasumsi, namun bahkan menghakimi.
- Merasa paling benar, dan cenderung mencari kambing hitam.
- Mengungkit masalah lama, sesuatu yang sudah dianggap selesai, hendaknya jangan diungkit lagi, kecuali kita tahu masih ada hal yang perlu dibereskan tentang hal tersebut.
- Menggeneralisasi, sering kali kita menggeneralisasikan pendapat pribadi kita tentang pasangan menjadi pendapat umum/semua orang. Misalnya: dengan mengatakan "Semua orang tahu kok....kalau kamu tukang marah...." atau menggeneralisir kelemahan dengan mengatakan " Kamu adalah orang yang selalu gagal.....".
- Menggunakan komunikasi yang buruk sebagai alat mencari solusi, misalnya: menggunakan marah/ngambek agar kemauan kita dituruti.
- Membandingkan, perlu dipahami bahwa setiap orang adalah pribadi yang unik. Setiap individu akan merasa tidak nyaman jika harus dibandingkan dengan orang lain, apalagi dengan cara yang negatif.
- Membesar-besarkan masalah/keadaan.
- Menggunakan bahasa negatif, yang cenderung melecehkan atau menghancurkan harga diri seseorang.
Tidak pernah ada dua orang yang benar-benar serupa. Demikian pula dengan pasangan hidup kita, meski sebelum menikah kita telah memilih seselektif mungkin agar dapat meminimalisir perbedaan dengan pasangan. Tetap saja akan ada berbagai perbedaan, baik itu karena pengaruh faktor latar belakang kehidupan, pandangan, kepribadian, atau bahkan mungkin pekerjaan. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk menyatukan dua hal yang berbeda dalam hubungan seumur hidup. Pasti akan terjadi konflik dan gesekan yang dapat memicu ketegangan dalam hubungan suami istri, baik gesekan yang timbul dari dalam diri suami istri, maupun dari luar. Untuk itulah komunikasi memiliki peran penting untuk menyelesaikan berbagai masalah hidup.
)*Disadur dari majalah BaitulMal Edisi 67 April 2014


Tidak ada komentar:
Posting Komentar