"Taqwa adalah meninggalkan apa-apa yang dimaui oleh hawa nafsumu, karena engkau takut. Takut kepada Allah, ridha dengan kekuasaan Nya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kiamat nanti"
(Imam Ahmad bin Hambal)
Pada hakekatnya tak ada penyejuk yang benar-benar menyegarkan, dan tak ada obat yang paling mujarab selain taqwa kepada Allah. Hanya taqwa kepada Nya lah satu-satunya jalan keluar dari berbagai problem kehidupan, yang mendatangkan keberkahan hidup, serta menyelamatkan dari azab Nya di dunia maupun di akhirat nanti. Karena taqwa jualah seseorang akan mewarisi surga Allah Subhannahu wa Ta'ala.
Pengertian taqwa mengandung makna yang bervariasi di kalangan ulama. Namun semuanya bermuara kepada satu pengertian yaitu seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dari azab Nya. Hal ini dapat terwujud dengan melaksanakan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi apa yang dilarang Nya. Bila kata taqwa disandarkan kepada Allah maka artinya takutlah kepada kemurkaan Nya, dan ini merupakan perkara yang besar yang mesti ditakuti oleh setiap hamba.
Pernah suatu ketika Rasullullah Shalallaahu alaihi wasalam berwasiat mengenai taqwa, dan kisah ini diriwayatkan oleh Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah shalat subuh bersama kami, kemudian memberi nasihat dengan nasihat yang baik yang dapat meneteskan air mata serta menggetarkan hati siapa pun yang mendengarnya. Lalu berkatalah salah seorang sahabat, "Ya Rasullullah, sepertinya ini nasihat terakhir oleh karena itu nasihatilah kami". Lalu Nabi bersabda:
"Aku wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan mentaati, sekalipun kepada budak keturunan Habsyi. Maka sesungguhnya barangsiapa diantara kamu hidup (pada saat itu), maka dia akan menyaksikan banyak perbedaan pendapat. Oleh karena itu hendaklah kamu mengikuti sunnahku dan sunnah khulafaurraasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah kuat-kuat dengan gigi gerahammu (peganglah sunnah ini erat-erat). Dan waspadalah kamu terhadap perkara yang diada-adakan (bid'ah) karena setiap bid'ah itu sesat" (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah).
Tentang sabda Rasulullah SAW di atas, Ibnu Rajab berkata bahwa kata "mendengar" dan "mentaati" mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Hari ini, ditengah terpaan angin syahwat dan syubhat, taqwa menjadi komoditi yang teramat langka. Masyarakat kita banyak dibuai dengan kesenangan-kesenangan duniawi. Lebih cinta terhadap acara di TV daripada ngaji. Lebih takut pada pengawasan CCTV dibanding pengawasan Ilahi. Imbasnya, berusaha menggapai ketaqwaan menjadi seberat menyalakan lilin di tengah terpaan angin topan. Tak salahlah jika Rasulullah mewasiatkan taqwa sebagai penyelamat kita di akhir zaman. Sesulit apa pun tantangannya, taqwa tetap harus kita usahakan.
MENYALAKAN LILIN DALAM TERPAAN ANGIN
Banyak sekali faktor-faktor penunjang agar kita bisa merasakan ketaqwaan tersebut. Meskipun pada hari ini, tak mudah kita melakukannya karena faktor lingkungan yang sudah sedemikian susahnya, diantaranya:
Makna ayat ini, bahwa Allah mengawasi dan menyaksikan perbuatanmu kapan saja dan dimana saja kamu berada. Di darat atau pun di laut, pada waktu malam maupun siang. Di rumah kediamanmu maupun di ruang terbuka. Segala sesuatu berda dalam ilmu Nya. Dia dengarkan perkataanmu, melihat tempat tinggalmu, dimana saja adanya dan Dia mengetahui apa yang kamu sembunyikan serta yang akmu fikirkan" (Tafsir Al-Qur'anul Adzim, IV/304)
Apabila kita mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dan tanda adanya nilai taqwa dalam pribadi kita serta di akhirat mendapat balasan surga, seperti firman Allah:
Dengan mengetahui rintangan-rintangan yang dibuat syaitan dan mengetahui tempat-tempat masuknya bujuk rayu syaitan ke dalam hati anak Adam, merupakan poin tersendiri bagi kita. Marilah kita berharap dan memohon kepada Allah semoga kita termasuk orang-orang Muttaqin yang selalu istiqomah pada jalan NYA
Aamiin.......
)* Disadur dari Majalah Baitul Mal Edisi Februari 2014
Tentang sabda Rasulullah SAW di atas, Ibnu Rajab berkata bahwa kata "mendengar" dan "mentaati" mempersatukan kebahagiaan dunia dan akhirat. Adapun taqwa merupakan penjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Hari ini, ditengah terpaan angin syahwat dan syubhat, taqwa menjadi komoditi yang teramat langka. Masyarakat kita banyak dibuai dengan kesenangan-kesenangan duniawi. Lebih cinta terhadap acara di TV daripada ngaji. Lebih takut pada pengawasan CCTV dibanding pengawasan Ilahi. Imbasnya, berusaha menggapai ketaqwaan menjadi seberat menyalakan lilin di tengah terpaan angin topan. Tak salahlah jika Rasulullah mewasiatkan taqwa sebagai penyelamat kita di akhir zaman. Sesulit apa pun tantangannya, taqwa tetap harus kita usahakan.
MENYALAKAN LILIN DALAM TERPAAN ANGIN
Banyak sekali faktor-faktor penunjang agar kita bisa merasakan ketaqwaan tersebut. Meskipun pada hari ini, tak mudah kita melakukannya karena faktor lingkungan yang sudah sedemikian susahnya, diantaranya:
- Mahabbah
- Merasakan adanya pengawasan Allah
"Dan Dia bersamamu dimana saja kamu berada. Dan Allah melihat apa-apa yang kamu kerjakan". (Al-Hadid:4)
Makna ayat ini, bahwa Allah mengawasi dan menyaksikan perbuatanmu kapan saja dan dimana saja kamu berada. Di darat atau pun di laut, pada waktu malam maupun siang. Di rumah kediamanmu maupun di ruang terbuka. Segala sesuatu berda dalam ilmu Nya. Dia dengarkan perkataanmu, melihat tempat tinggalmu, dimana saja adanya dan Dia mengetahui apa yang kamu sembunyikan serta yang akmu fikirkan" (Tafsir Al-Qur'anul Adzim, IV/304)
- Menjauhi penyakit hati
- Menundukkan hawa nafsu
Apabila kita mampu menahan dan menundukkan hawa nafsu, maka kita akan mendapatkan kebahagiaan dan tanda adanya nilai taqwa dalam pribadi kita serta di akhirat mendapat balasan surga, seperti firman Allah:
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungghnya surgalah tempat tinggalnya" (An-Nazi'at:40-41)
- Mewaspadai tipu daya syaitan
Dengan mengetahui rintangan-rintangan yang dibuat syaitan dan mengetahui tempat-tempat masuknya bujuk rayu syaitan ke dalam hati anak Adam, merupakan poin tersendiri bagi kita. Marilah kita berharap dan memohon kepada Allah semoga kita termasuk orang-orang Muttaqin yang selalu istiqomah pada jalan NYA
Aamiin.......
)* Disadur dari Majalah Baitul Mal Edisi Februari 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar