Label

Kamis, 27 Maret 2014

Nrimo Ing Pandum...



Nrimo ing pandum kurang lebih berarti menerima apa yang diberikan dengan rasa ikhlas dan syukur. Bagi masyarakat Jawa, nasehat ini merupakan himbauan agar dalam setiap langkah kehidupan senantiasa bersikap ikhlas dan mensyukuri apa yang telah diberikan Allah."

Sebagian orang memandang sinis konsep ini. Mereka menganggap orang yang melaksanakan konsep ini adalah golongan fatalis, yaitu orang yang pasrah begitu saja terhadap nasib/takdir. Tak mau berusaha lebih keras, lebih memilih bersantai, tidak ada usaha untuk maju.

Bisa jadi, anggapan tersebut ada benarnya, mengingat semua falsafah, slogan dan visi pada dasarnya bisa diperdebatkan. Tetapi disini falsafah "nrimo ing pandum" ini kita garisbawahi sebagai bentuk tawakal atas usaha yang dilakukan. Setelah mengambil sebab-sebab keberhasilan, setelah menemp0uh sebaik-baik cara menuju kesuksesan, setelah mengiringi setiap langkah yang diambil dengan doa panjang terpanjatkan, baru kemudian bertawakal.

Tawakal sendiri menandakan fase keikhlasan untuk dinilai atas hasil kerja dan doa yang telah dilakukan. Jadi disini falsafah ini hanya berlaku untuk mereka yang telah menunaikan kewajibannya dengan baik. Apa pun hasilnya itulah yang akan mereka terima dengan tangan terbuka.



Seorang petani, dengan jerih payah sejak pembibitan hingga menunggu masa panen, tiba-tiba sawahnya terkena serbuan hama wereng atau tikus, hanya bisa pasrah. Menyesali kerja kerasnya selama ini pun tidak akan membuat hasil panennya sesuai harapannya. Tetapi tetap berbaik sangka kepada Allah akan membuat jiwa mereka lebih ringan untuk kembali bangkit dari keterpurukan.

Betapa nikmatnya orang yang mengamalkan falsafah nrimo ing pandum ini. Seringkali orang terlalu percaya diri dengan planning keuntungan yang akan didapatkan, dan kemudian merasa kecewa setelah mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan. Capaian target ini yang tidak ada dalam konsep nrimo ing pandum, dengan demikian tidak ada tendensi untuk merasa "gelo" (kecewa) jika hasilnya kurang memuaskan.

Rejeki tidak pernah dapat dihitung dalam bentuk nominal, begitulah yang dipercaya oleh orang-orang yang mempercayai falsafah nrimo ing pandum ini. Bagi kusir andong di daerah wisata misalnya, bagi mereka rejeki bukan hanya dilihat dari berapa tarif yang berhasi ia uangkan dari para wisatawan, tetapi kenyataan bahwa dalam keseharian mereka (dengan penghasilan yang tidak menentu), Allah masih menitipkan rejeki untuk mengganjal perut mereka.

Para abdi dalem keraton Yogyakarta mungkin merupakan contoh yang paling kentara dari konsep ini. Betapa tidak dengan hanya bergaji dikisaran 2 ribu-5 ribu rupiah per bulan. Bahkan untuk membeli satu porsi nasi ayam pun tidak akan pernah cukup. Tetapi ternyata, para abdi dalem tersebut menganggap hal ini sudah merupakan berkah. Jumlah nominal yang ala kadarnya tersebut tidak sebanding dengan perasaan adem ayem tentrem yang dirasakan, nrimo (menerima) rezeki yang Allah berikan sehingga mereka tidak perlu harus ngresula (mengeluh) terhadap besaran gaji mereka.

Nrimo ing pandum = Qona'ah

Suatu hari Bejo dan Kirun bertemu di warung langganan mereka. Segelas kopi hangat mengepul dihadapan mereka. Kacang goreng bungkus plastik menjadi teman asyik ngobrol rutin mereka. Ceritanya Kirun baru mengikuti training motivasi usaha kecil menengah (UKM). Targetnya adalah meningkatkan omzet dari usaha yang dimiliki. Ternyata, setelah dilaksanakan 3 bulan segala tips yang dibagi ketika training tidak membuahkan hasil. Omzetnya masih stagnan, bahkan cenderung berkurang karena musim hujan yang tidak menentu. Curhatlah Kirun kepada Bejo sambil menikmati kacang goreng dan kopi tersebut.

"Jo, ada solusi dari masalahku?" ujar Kirun
"Lha kok malah tanya sama saya, trainernya apa nggak kamu tanya?" jawab Bejo balik bertanya.
"Lha itu masalahnya, saya malah disuruh ikut training lagi. Lha wong duit buat ikut training itu aja nabungnya lama" Jawab Kirun sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Piro tho penghasilanmu sebulan Run?" sahut Bejo tiba-tiba.
"Sembilan ratus ribu Jo. kadang yo sejuta, nek pas rame bisa sejuta lima ratus" Jawab Kirun tanpa dosa, padahal Bejo sehari kadang cuma menghasilkan 20 ribu rupiah, mentok-mentoknya 30 ribu rupiah.
"Kurang nrimo ing pandum kowe Run. Ambisi besar boleh, cita-cita besar itu luar biasa. Tapi kalalu belum bisa memenuhi target yo harus Qona'ah" Bejo menghabiskan kopinya segera setelah mendengar suara adzan Isya'.
"Wis, ayo segera ke masjid. Sudah adzan Isya' Run. Berdoa sama Allah, jangan lupa nrimo ing pandum. Qona'ah menerima rizki yang diberikan sama Allah kepada kita hari ini" ucap Bejo sambil beranjak menuju masjid. Kirun manggut-manggut sembari menghabiskan kopinya dan membayar jajanan mereka. Kirun pun bergegas menyusul Bejo yang sudah lebih dulu melangkah ke masjid.

Illustrasi dari percakapan di atas terkadang sering menimpa kita. Begitu asyiknya kita memasang goal setting, mengharap begitu tinggi, berangan-angan akan hasil yang luar biasa. Lalu tiba-tiba terjatuh, kecewa ketika hasil tidak sesuai harapan. Disinilah nrimo ing pandum mengambil peranan. Setelah kita didorong oleh sekian banyak motivasi untuk berusaha sekuat tenaga, mengerahkan segala daya yang kita memiliki, penerapan falsafah nrimo ing pandum akan memastikan kita untuk bisa tawakal dan qona'ah dalam menerima apa pun hasil yang diperoleh.

Jika boleh mengubah makna nrimo ing pandum, saya lebih suka memaknainya dengan "tetap memandang positif hasil yang didapatkan, disertai rasa syukur atas rizki yang Allah berikan. Dengan begitu kita bisa kembali bangkit berusaha dan tidak berlarut-larut menyesali hasil yang tidak sesuai target.



"Kebahagiaan kita tidak diukur dari besaran gaji yang kita terima, tetapi bagaimana kita mensyukuri apa yang telah kita capai dari kerja keras kita."



)*Disadur dari majalah Baitul Mal edisi Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar